Tuesday, December 25, 2012

what is PDD-NOS



Apa itu PDD-NOS

Pervasive Developmental Disorder-Not Otherwise Specified (PDD-NOS) oleh para psikolog dan psikiatris biasa sering disebut pervasive developmental disorder (PDD) atau autism spectrum disorder (ASD) secara bergantian. Pasalnya, PDD-NOS menjadi diagnosa bagi anak-anak ataupun orang dewasa yang berada dalam spektrum autis tetapi tidak sepenuhnya masuk dalam kategori ASD atau yang lebih populer dengan sebutan autis klasik ataupun sindrom Asperger.

Seperti  layaknya seluruh bentuk autisme, PDD-NOS bisa hadir dalam spektrum kemampuan intelektual yang luas. Garis bawahnya terletak pada perkembangan bahasa dan interaksi sosial.PDD-NOS terkadang disebut sebagai autisme ringan. Kalangan profesional  menyebut PDD-NOS berada dalam ambang bawah autisme. 

Foto ilustrasi
Dengan kata lain, PDD-NOS digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki sebagian karakteristik autis tapi gejalanya sangat halus jika dibandingkan gejala autis klasik yang biasa disebut sebagai ASD. Misalnya, si anak menunjukkan gejala autis yang signifikan di satu area seperti lemahnya interaksi sosial, tapi tidak menunjukkan gejala-gejala autis di area yang lain seperti kebiasaan melakukan satu hal berulang-ulang atau perilaku lain yang terbatas. 

Diagnosa seorang anak mengalami PDD-NOS relatif baru saja di kenal, sekitar 15 tahun terakhir istilah ini mulai muncul. Ini yang menyebabkan sebagian ahli medis maupun pendidik  awam tentang istilah ini atau menggunakannya dengan kurang pas.

Akan lebih membantu mungkin, jika kajian yang merujuk seseorang mengalami PDD-NOS dibedakan dalam tiga subkelompok yang berbeda di bawah ini :
                                                                                    
  • Kelompok high-functioning atau mereka yang sebagian besar menunjukkan fungsi tinggi (sekitar 25%) jika dibandingkan dengan mereka yang mengalami austis klasik. Misalnya, gejalanya sepintas mirip Sindrom Asperger tapi berbeda dalam hal keterlambatan bicara/berbahasa ataupun dalam hal kelemahan kognitif. Sindrom Asperger secara umum tidak terlalu terkait dengan keterlambatan bicara ataupun lemah kognitif.
  • Grup kedua adalah mereka yang menunjukkan gejala mirip dengan gangguan autis (sekitar 25%) namun tidak kesemuanya menunjukkan tanda-tanda maupun gejala autis.
  • Grup ketiga adalah mereka yang menunjukkan gejala atau kriteria autis (sekitar 50%) tapi tidak menunjukkan tingkah laku berulang-ulang atau jika ada hanya ringan (misal: mengayunkan badan maju-mundur berulang-ulang setiap saat). sumber www.autismspeaks.com

No comments:

Post a Comment